Judul: Cina Peranakan Makassar, Pembauran Melalui Perkawinan Antar Budaya
Penulis: Shaifuddin Bahrum
Penerbit: Baruga Nusantara, 2003
Halaman: 198 + xx



 


Enak rasanya rappo kadalle
Didjoeal moerah djai taralle
Soenggoe nona angerang dalle
Harep dateng a’mole-mole

Makan ajam le’ba’ samballe
Enak dimakan tarasi balle
Djikaloe bisa sibole-bole
Djangan nona a’balle-balle

Naek goenoeng boetta Makale
Djoeal saroeng na tjele-tjele
Djikaloe nona a’balle-balle
Tentoe nona djadi capele


Jelas terlihat, pantun-pantun di atas adalah perpaduan antara bahasa Melayu berdialek Jakarta dengan bahasa Makassar. Ketika sastra Melayu berkembang di Nusantara pada awal abad ke-20, pengaruhnya juga terasa sampai ke Makassar. Akan tetapi, di paruh pertama, penulis lokal Makassar kemungkinan mengalami kesulitan, atau bisa saja tidak terlalu peduli, untuk mengadaptasi pantun Melayu ke dalam bahasa Makassar. Namun di tahun 1930-an, kesulitan itu setidaknya sudah terselesaikan. Pantun yang dikutipkan di atas adalah bentuk kreativitas penulis lokal Makassar ketika berinteraksi dengan sastra Melayu yang berkembang pada saat itu.

Tapi siapa yang menjadi tokoh adaptasi tersebut? Ini mungkin yang sangat unik. Ternyata, pelopor pantun Melayu Makassar itu adalah seorang keturunan Cina yang bermukim di Makassar, Ang Ban Tjiong. Didorong oleh kecintaannya kepada bahasa Makassar, dia kemudian menulis sekitar 200 bait pantun yang dikumpulkan di dalam buku Pantoen Melajoe-Makassar. Di dalam pengantar buku pantun itu, Ang Ban Tjiong mengatakan, “Saya sengadja buat (pantun) begitoe roepa oleh karna menginget kita punja bahasa Makassar sendiri, tidak kalah aloesnja, sedapnja dan bagoesnja, bila mau dibandingkan dengan pantoen bahasa Melajoe.”

Orang Cina ke Makassar


“Cina” sudah lama dikenal di dalam tradisi Sulawesi Selatan. Bahkan di dalam La Galigo, khususnya pada bagian Ritumpenna Walenrengnge, negeri Cina yang jaraknya tiga bulan pelayaran dari kerajaan Luwu itu disebutkan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan orang-orang Bugis. Selain itu, sampai saat ini kita juga mengenal adanya beberapa Kampung Cina di Sulawesi Selatan, misalnya di daerah Pammana kabupaten Wajo, Bone, maupun Bantaeng. Namun Prof. Zainal Abidin mengatakan bahwa bisa jadi Kerajaan Cina itu adalah kerajaan Bugis tertua di Sulawesi Selatan.

Menurut sebagian besar penelitian, kedatangan orang Cina ke Makassar jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Kemungkinan, disebabkan kesamaan motif perjalanan mereka karena alasan perdagangan, orang Cina sampai di Makassar bersamaan dengan orang-orang Arab. Akan tetapi, bagi orang Cina, ada faktor lain yang menjadi alasan migrasi mereka. Selain karena urusan perniagaan, sering pula orang Cina harus berpindah karena ketakutan terhadap akibat-akibat sosial dari pertikaian kekuasaan yang lazim terjadi di daerah asalnya.

Diduga, kedatangan orang Cina ke Makassar terjadi pada masa dinasti Yuan (1280-1367), malah bisa jadi lebih awal dari periode tersebut. Dari bahasa yang mereka gunakan, setidaknya ada empat golongan masyarakat Cina yang tersebar di Makassar: Hok Kian, Hakka (Khek), Kanton, dan Tio Tjio. Orang-orang Hok Kian yang berasal dari Amoy, Tsiang Tsu, Tsoan Tsiu, dan Fu Kheien bagian selatan, adalah imigran Cina yang pertama mukim di Makassar dalam jumlah besar sampai abad ke-19.

Orang-orang Hakka, yang merupakan populasi kedua terbesar setelah Hok Kian, adalah kelompok yang berasal dari propinsi Kuan Tong. Orang-orang Kanton yang umumnya bermodal besar, adalah kelompok masyarakat Cina yang berasal dari propinsi Kuang Tung yang baru bermigrasi ke Makassar abad ke-19. Dan orang-orang Tio Tjoe, mereka adalah orang-orang yang Cina yang berasal dari pantai Selatan Tiongkok di pedalaman Swatow di sebelah timur propinsi Kuang Tung.

Selain keempat kelompok besar ini, sebenarnya ada kelompok-kelompok migran Cina lainnya. Namun demikian, jumlah mereka relatif sangat kecil. Mereka adalah kelompok migran yang berasal dari pulau Hainan serta daerah-daerah lain di Tiongkok seperti Hok Tjia, Hing Hua, Hok Tjioe, Ching Chiang, Hoklo, Tio Ko Tjoe, Hai Lok Hong, Loe Tjoe, Ko Tjoe, Macao, Kioe Shen, dan lain-lain.

Asimilasi dan Akulturasi Budaya Cina Makassar

Kehidupan bersama dan interaksi sosial antara orang-orang Makassar (Sulawesi Selatan/Barat) dengan masyarakat Cina meniscayakan asimilasi dan akulturasi budaya antara kedua entitas tersebut. Walaupun tetap ada unsur-unsur resistensi, mereka membutuhkan keharmonisan agar bisa mempertahankan kontrak sosialnya. Karena itulah, di Makassar secara khusus, kita tidak hanya menemukan perkawinan antara orang Cina dan orang pribumi, tetapi yang lebih besar lagi adalah perkawinan budaya antara kedua kelompok masyarakat itu.

Ang Bang Tjiong adalah salah satu contoh orang Cina yang telah “menjadi” orang Makassar. Tjiong berperan aktif dalam pengembangan sastra Melayu bermuatan Makassar walaupun beliau sendiri adalah orang Cina. Kenal dengan lagu-lagu daerah Makassar seperti Ati Raja, Dendang-Dendang, atau Pa’sianteng? Lagu-lagu itu, yang saat ini masih sangat popular dan lebih sering pengarangnya disebutkan NN atau no name saja, sebenarnya adalah karangan Hoo Eng Dji. Bersama Pui Cung An, Hoo Eng Dji yang sempat membesarkan kelompok orkes “Singara Kullu-Kulluwa” adalah dua tokoh yang mempopulerkan lagu-lagu Makassar sebelum kemerdekaan sampai berjayanya RRI di tahun 1970-an. Bahkan, atas prakarsa Hoo yang bekerjasama dengan musisi Bugis seperti Abdullah, Tala dan Hawang dari Bone serta musisi Mandar seperti Sitti Subaedah dari Pambusuang Mandar, dari tahun 1928 sampai tahun 1940, tercatat kurang lebih 20.000 keping plat hitam lagu-lagu Makassar, Bugis dan Mandar yang direkam dan laku terjual sebelum perang Pasifik terjadi.

Banyak contoh lain dari perpaduan budaya Cina dan budaya lokal di Sulawesi Selatan/Barat. Di Makassar, banyak orang-orang Cina yang walaupun tidak bisa menyembunyikan identitas fisik mereka, tetapi mereka mampu menampakkan identitas lokal seperti bahasa dan dialek Makassar. Di kota-kota di wilayah Sulawesi Barat, banyak orang Cina yang sangat fasih berbahasa Mandar dengan logat yang sesuai dengan daerah masing-masing. Di kalangan Cina peranakan, penyerapan bahasa lokal Makassar bahkan sudah menjadi identitas tersendiri. Dalam struktur keluarga misalnya, istilah dalam bahasa Cina sudah dipadukan dengan bahasa Makassar seperti angko lompo (saudara laki-laki tertua), aci tangnga (saudara perempuan nomor dua), angko tangnga, aci lompo, dan lain-lain.

Di dalam agama dan kepercayaan, orang Cina juga hampir sudah meninggalkan kepercayaan nenek moyang mereka seperti Kong Hu Cu, ajaran Lao Tze, Budha dan lain-lain. Namun demikian, pengaruh kepercayaan nenek moyang itu masih terasa dalam tradisi Cina Makassar walaupun mereka sudah memeluk agama Katolik, Islam, Advent, maupun kepercayaan lainnya. Perpindahan ke agama Katolik masyarakat Cina di Makassar lebih banyak terjadi ketika merebaknya isu komunis dari Peking pada masa awal pemerintahan Soeharto. Ketika ada kekhawatiran masyarakat Cina dicap sebagai agen komunis, para misionaris yang banyak mengajar di sekolah-sekolah yang murid-muridnya dari kalangan Cina menyarankan kepada mereka untuk memeluk agama Katolik. Adapun agama lainnya, kebanyakan orang Cina memilih agama tersebut karena alasan perkawinan, khususnya agama Islam.

                                                     ***

Buku ini mungkin adalah hasil penelusuran masyarakat Cina di Makassar yang paling representatif sampai saat ini. Walaupun masih ada beberapa bahan kajian yang terlewatkan, seperti yang juga disampaikan oleh Myra Sidharta di dalam catatan pengantar, namun kehadiran buku ini menyegarkan kembali sebuah pesan bahwa etnis Cina di Makassar secara khusus dan di Sulawesi Selatan/Barat secara umum tidak bisa dipisahkan dari etnis-etnis lain di daerah ini. Buku ini menunjukkan sebuah preseden bahwa jauh sebelumnya, etnis Cina bisa hidup secara harmonis dengan etnis lainnya di Makassar di dalam hal apa saja: kehidupan sosial secara umum, sastra, musik, saling berbagi pengetahuan (khususnya kedokteran tradisional), tradisi lainnya, bahkan kepercayaan.

Kita tentu harus mencatat kesan eksklusif masyarakat pribumi terhadap masyarakat Cina di Makassar. Kita juga tidak bisa mentolelir kekerasan yang kerap menimpa masyarakat Cina yang disulut oleh hal-hal kecil di Makassar dalam beberapa waktu terakhir. Akan tetapi membaca buku ini akan memberikan penyegaran baru tentang perlunya hidup bersama yang harmonis dalam payungan toleransi dan kesetaraan antar elemen masyarakat, termasuk masyarakat Cina dan etnis lainnya dimanapun mereka berada.

Buku ini harus dibaca oleh masyarakat Cina dan masyarakat lainnya di Makassar. Kita tentu merindukan kembalinya Ang Ban Tjiong, Hoo Eng Dji, Pui Cung An dan orang-orang Cina lainnya yang sudah “menjadi” orang Makassar, pada saat yang sama kita juga menuntut orang pribumi untuk menerima etnis Cina sebagai saudara.
Selamat membaca!



 
First Post! 02/18/2008
 
Start blogging by creating a new post. You can edit or delete me by clicking under the comments. You can also customize your sidebar by dragging in elements from the top bar.